Pameran 10 Poster “Neo Nasionalisme” dari DKV Binus University
Pameran 10 Poster ‘Neo Nasionalisme’
Cara pandang baru generasi muda dalam melihat realitas problematik di negerinya.
Menampilkan 10 poster karya mahasiswa dan dosen DKV Binus. Setiap poster mencoba mengetengahkan realitas masalah, isu-isu aktual yang terjadi di negeri ini dari berbagai topik. Pesan yang disampaikan bisa sangat provokatif kritis terhadap keadaan, atau sebaliknya justru kontemplatif menawarkan inspirasi solusi untuk keadaan yang lebih baik. 10 poster yang mengajak perubahan perbaikan.
Cuek Bebek’ Arif PSA + Ung
Diatur aja masih suka ngawur. Apa jadinya kita hidup tanpa aturan. Disiplin dan tahu aturan adalah salah satu kisi tanggung jawab kita sebagai warga negara yang baik. Mulai besok, jangan lupa pakai helm yang standar, taati rambu, bayar parkir, hargai dan hormati pengguna jalan lain, dsb. Nasionalisme itu lebih penting dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan cuma sebatas wacana!
‘Dimulai Dari yang Kecil’ Budi Sri Herlambang
Nasionalisme pada masa sekarang dalam salah satu bentuk yang paling sederhana dan sebenarnya yang paling mudah, yaitu dari yang dekat dengan kehidupan keseharian kita, dimulai dari yang kecil.
Game Over’ Fauzi Raisyuli
Pada setiap akhir permainan game (tahun 80an), selalu terdapat pilihan. Lanjutkan atau permainan selesai. Menyindir tentang keadaan bangsa kita sekarang yang mengambang. Apakah kita mau melanjutkan semangat bangsa dalam keadaan kritis ini? Atau selesai dan GAME OVER.
Chaos Theatre’ Lateev Haq
Munculnya kekuatan-kekuatan baru di masyarakat yang mengarah pada aroganisme dengan dalih kebebasan berpendapat menambah deretan kelam dalam berdemokrasi di negeri ini. Semangat leluhur kita yang memperjuangkan negeri kita ini menuju Indonesia bersatu mengalami abrasi orientasi dalam memaknai generasi berikut. Pemandangan satire tentang hegemoni kelompok yang lebih kuat, ataupun hentakan kelompok-kelompok radikal menjadi makanan kita sehari-hari. Keutuhan negeri ini dipertaruhkan secara spirit, sementara masyarakat apatis dengan keadaan yang ada, karena kebutuhan perut semakin mencekik.
‘Sapu Lidi’ Arif PSA
Kalau tidak berani sendiri, cobalah pakai hakekat sapu lidi. Lebih berani (karena benar) dengan bersatu. Bersatu membersihkan hal-hal palsu dan ngawur dalam kehidupan keseharian kita. Anda berani?
Multiculturalism Beyond Nationalism’ Yasser Rizky
Disini saya ingin menyampaikan pemikiran pribadi saya mengenai nasionalisme, sebagai seorang warga negara Indonesia. Saya melihat adanya suku-suku berbeda, dan banyak keragaman lain sebagai kekuatan Indonesia. Bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang lahir dari keragaman yang bersatu. Kekuatan kita ada dari diferensiasi yang bisa berjalan bersama.
Nasi-Onal-Isme’ Ismiaji Cahyono
Saya bertanya tentang persepsi pribadi terhadap rasa kebangsaan yang sering ditantang oleh ketidakadilan yang kerap terjadi di bangsa ini. Mungkin hal yang menjadi esensi untuk menumbuhkan semangat kebangsaan adalah menemukan kesimbangan antara kewajiban negara dan tanggung jawab warga. Dan saya pikir keseimbangan ini sudah timpang karena justru kewajiban menopang negara ini lebih banyak dilaksanakan oleh warga dan bukan negara. Beranjak dari kata “nasi” yang dipenggal dari “nasionalisme” saya berpikir tentang kebutuhan paling dasar, yaitu makanan, khususnya nasi, yang gagal dipenuhi negara sebagai kewajiban terhadap 70 juta rakyatnya yang berada di “bawah garis kemiskinan”. Padahal hanya menyediakan pangan… bukankah itu mudah? Walau sudah ada di dalam konstitusi, tetap saja setelah hampir 70 tahun merdeka negara kita gagal menyejahterakan rakyatnya. Untuk hidup layak sepenuhnya menjadi perjuangan penuh darah dan keringat di antara fasilitas dan kebijakan umum yang cacat, korup, dan birokratik. Yang ada di pangku perwakilan rakyat adalah penggalangan kekuatan dan kompromi politis, untuk semata dapat bertahta. Maka saya membayangkan nasi yang dimasak dari tanah dan air bumi pertiwi Indonesia, sebuah konsep bangsa yang bukan cuma sekedar peduli namun memperhatikan dan menyejahterakan rakyatnya. Nikmat bukan?
Ruwet Nasional’ Tunjung Riyadi
Kondisi bangsa dan negara Indonesia saat ini terkesan “ruwet”, banyak masalah, banyak yang tidak jelas solusinya. Jadi jangan ikut-ikutan bikin ruwat. Berniat baik dan berbuat baik saja.
Cinta yang Hilang’ Noor Udin Ung
Terakhir kali saat seorang rekan menanyakan poster saya, saya masih bingung mau mulai bikin dari angle mana? Mungkin sama dengan apa yang banyak dirasakan temen-temen lain. “Aku harus ngomong apa tentang nasionalisme?”, bangsa yang diobrak-abrik, dijajah, dilukai, dibohongi bangsanya sendiri… ya mereka benar-benar mengkhianati kebersamaan/nasionalisme/cinta tanah air kita… semoga kesederhanaan poster ini cukup menerangkan betapa negeri ini sudah habis-habisan dirampok mereka. Koruptor.
‘KTP’ Vincentius Ritchie + William Surya
KTP hanyalah tanda resmi bahwa seorang adalah warga negara Republik Indonesia dan telah berusia 17 tahun. KTP bukan indikator kebangsaan. Jadi janganlah dengan memegang KTP Anda menjadi bangga. Banggalah akan tanah kelahiran Anda dan segala kekayaan budayanya. Banggalah jika anda menyadari betapa kaya nusantara kita akan suku bangsa. Banggalah memiliki ribuan dialek di tanah air dengan satu bahasa persatuan. Dari situ baru kita akan memaknai KTP yang kita miliki, sebagai tanda persatuan kebangsaan dari segala suku bangsa yang ada dari Sabang sampai Merauke. Kini, setelah 65 tahun berlalu. Masihkah semangat itu ada?

Response to "Pameran 10 Poster “Neo Nasionalisme” dari DKV Binus University"